Sabtu, 27 April 2013

KONSEP DASAR ANESTESI


KONSEP DASAR ANESTESI

1.      Memberikan pelayanan anestesi, analgesi dan sedasi yang aman, efektif, manusiawi dan memuaskan bagi pasien yang menjalani pembedahan, prosedur medik atau trauma yang menyebabkan nyeri, kecemasan dan stres psikis lainnya.
2.      Menunjang fungsi vital tubuh terutama jalan nafas, pernafasan, perdaran darah dan kesadaran pasien yang mengalami gangguan atau ancaman jiwa karena menjalani prosedur medik, trauma atau penyakit lain.
3.      Melakukan reanimasi dan resusitasi jantung, paru, otak (basic advanced prolonged life support) pada kegawatan mengancam jiwa dimanapun pasien berada (ruang gawat darurat, kamar bedah, ruang pulih sadar, ruang intensif / ICU).
4.      Menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa dan metabolisme tubuh pasien yang mengalami gangguan atau ancaman jiwa karena menjalani prosedur medik, trauma atau penyakit lain.
5.      Mengatasi masalah nyeri akut di rumah sakit (nyeri akibat pembedahan, trauma maupun nyeri persalinan).
6.      Menanggulangi masalah nyeri kronik dan nyeri membandel (nyeri kanker dan penyakit kronik).
7.      Menbeikan bantuan terapi pernafasan.


PENGERTIAN ANESTESI
Anestesi berasal dari bahasa Yunani a : tanpa, aesthesis : rasa, sensasi (Anestesiologi FKUI 1989).
Anestesi adalah suatu keadaan narkosis, analgesia, relaksasi dan hilangnya reflek (Keperawatan medikal bedah, Brunner dan Sudarth edisi 8).
Definisi anestesiologi yang ditegakkan oleh The American Board of Anesthesiology pada tahun 1089 ialah mencakup semua kegiatan profesi atau praktek yang meliputi :
1.      Menilai, merancang, menyiapkan pasien untuk anestesi.
2.      Membantu pasien menghilangkan nyeri pada saat pembedahan, persalinan atau pada saat dilakukan tindakan diagnostik terapeutik.
3.      Memantau dan memperbaiki homeostasis pasien perioperatif dan pada pasien dalam keadaan kritis.
4.      Mendiagnosis dan mengobati sindroma nyeri.
5.      Mengelola dan mengajarkan resusitasi jantung paru (RJP).
6.      Membuat evaluasi fungsi pernafasan dan mengobati gangguan pernafasan.
7.      Mengajarkan, memberi supervisi dan mengadakan evaluasi tentang penampilan personil paramedik dalam bidang anestesi, perawatan pernafasan dan perawatan pasien dalam keadaan kritis.
8.      Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untuk menjelaskan dan memperbaiki perawatan pasien terutama tentang fungsi fisiologi dan respon terhadap obat.
9.      Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit. Pendidikan kedokteran dan fasilitas rawat jalan yang diperlukan untuk implementasi pertanggung jawaban.  

RUANG LINGKUP KEPERAWATAN ANESTESI
Ruang lingkup keperawatan anestesi meliputi pelayanan keperawatan anestesi pada pelayanan :
1.      Pra anestesi / pembedahan
2.      Selama anestesi / pembedahan
3.      Pasca anestesi / pembedahan
4.      Perawatan gawat darurat
5.      Perawatan intensif
6.      Semua pelayanan yang memerlukan perawatan anestesi.

PERAWATAN PRA ANESTESI
Perawatan pra anestesi dimulai saat pasien berada di ruang perawatan, atau dapat juga dimulai pada saat pasien diserahterimakan di  ruang opersai dan berakhir saat pasien dipindahkan ke meja operasi.
Tujuan :
1.      Menciptakan hubungan yang baik dengan pasien, memberikan penyuluhan tentang tindakan anestesi.
2.      Mengkaji, merencanakan dan memenuhi kebutuhan pasien.
3.      Mengetahui akibat tindakan anestesi yang akan dilakukan.
4.      Mengantisipasi dan menanggulangi kesulitan yang mungkin timbul.
Dalam menerima pasien yang akan menjalani tindakan anestesi, Perawat anestesi wajib memeriksa kembali data dan persiapan anestesi, diantaranya:
1.      Memeriksa:
-          Identitas pasien dan keadaan umum pasien.
-          Kelengkapan status / rekam medik.
-          Surat persetujuan operasi dari pasien / keluarga.
-          Data laboratorium, rontgent, EKG dan lain-lain.
-          Gigi palsu, lensa kontak, perhiasan, cat kuku, lipstik dan lain-lain.
2.      Mengganti baju pasien.
3.      Membantu pasien untuk mengosongkan kandung kemih.
4.      Mencatat timbang terima pasien.

Perawat anestesi juga bertugas memberikan pre-medikasi berdasarkan instruksi tertulis dari dokter Spesialis Anestesiologi atau dokter lain yang berwenang. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
1.      Memeriksa kembali nama pasien sebelum memberikan obat.
2.      Mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita.
3.      Mengetahui riwayat alergi terhadap obat-obatan.
4.      Memeriksa fungsi vital (tensi,nadi,suhu,nafas) sebelum memberikan premedikasi dan sesudahnya.
5.      Memberikan obat pre-medikasi sesuai instruksi dokter dan kemudian mencatat nama obat, dosis obat, cara dan waktu pemberian, tanda tangan dan nama jelas perawat yang memberikan obat.

PERAWATAN SELAMA ANESTESI
Perawatan selama anestesi dimulai sejak pasien berada diatas meja operasi sampai dengan pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar.

Tujuan :
Mengupayakan fungsi vital pasien selama anestesi berada dalam kondisi optimal agar pembedahan dapat berjalan lancar dengan baik.
Sebelum dilakukan tindakan anestesi, perawat anestesi wajib :
1.      Memeriksa kembali nama pasien, data, diagnosa dan rencana operasi.
2.      Mengenalkan pasien kepada dokter spesialis anestesiologi, dokter ahli bedah, dokter asisten dan perawat instrumen.
3.      Memberikan dukungan moril, menjelaskan tindakan induksi yang akan dilakukan dan menjelaskan fasilitas yang ada di sekitar meja operasi.
4.      Memasang alat-alat pemantau (antara lain tensimeter, EKG dan alat lainnya sesuai dengan kebutuhan).
5.      Mengatur posisi pasien bersama-sama perawat bedah sesuai dengan posisi yang dibutuhkan untuk tindakan pembedahan.
6.      Mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan.

Selama tindakan anestesi perawat anestesi wajib :
1.      Mencatat semua tindakan anestesi.
2.      Berespon dan mendokumentasikan semua perubahan fungsi vital tubuh pasien selama anestesi / pembadahan. Pemantauan meliputi sistem pernafasan, sirkulasi, suhu, keseimbangan cairan, perdarahan dan produksi urine dan lain-lain.
3.      Berespon dan melaporkan pada dokter spesialis anestesiologi bila terdapat tanda-tanda kegawatan fungsi vital tubuh pasien agar dapat dilakukan tindakan segera.
4.      Melaporkan kepada dokter yang melakukan pembedahan tentang perubahan fungsi vital tubuh pasien dan tindakan yang diberikan selama anestesi.
5.      Mengatur dosis obat anestesi atas pelimpahan wewenang dokter.
6.      Menanggulangi keadaan gawat darurat.

Pengakhiran anestesi :
1.      Memantau tanda-tanda vital secara lebih intensif.
2.      Menjaga jalan nafas supaya tetap bebas.
3.      menyiapkan alat-alat dan obat-obat untuk pengakhiran anestesi dan atau ekstubasi.
4.      Melakukan pengakhiran anestesi dan atau ekstubasi sesuai dengan kewenangan yang diberikan.



PERAWATAN PASCA ANESTESI
Perawatan pasca anestesi / pembedahan dimulai sejak pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar sampai diserahterimakan kembali kepada perawat di ruang rawat inap. Jika kondisi pasien tetap kritis pasien dipindahkan ke ICU.
Tujuan :
-          Mengawasi kemajuan pasien sewaktu masa pulih.
-          Mencegah dan segera mengatasi komplikasi yang terjadi.
-          Menilai kesadaran dan fungsi vital tubuh pasien untuk menentukan pemindahan / pemulangan pasien.

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT ANESTESI
Perawat anestesi dalam pelayanan anestesiologi dan reanimasi mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut :
1.      Pengelola asuhan keperawatan anestesi.
2.      Mitra kerja dalam pelaksanaan tindakan anestesi.
3.      Pengelola asuhan kaparawatan pada keadaan gawat darurat.
4.      Mitra kerja / pelaksanaan tindakan medik pasda pasien gawat darurat.
5.      Pengelola asuhan keperawatan pasien di Intensif Care.
6.      Sebagai pendidik

Kompetensi minimal seorang Perawat Anestesi adalah sebagai berikut :
1.      Dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien yang akan menjalani prosedur anestesi (pra, intra dan pasca ).
2.      Dapat melakukan asuhan keperawatan selama tindakan / prosedur anestesi sedang berlangsung.
3.      Dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien dalam keadaan gawat darurat.
4.      Dapat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang membutuhkan perawatan intensif.
5.      Dapat melakukan kerja sama antar anggota tim, baik sebagai mitra kaerja ataupun pelaksana tindakan dalam pelayanan anestesiologi dan reanimasi sesuai dengan peran, fungsi, etika dan kebijaksanaan atau batas kewenangannya.
(standar umum pelayanan anestesiologi dan reanimasi di rumah sakit, 1999)

Penatalaksanaan Keperawatan Dalam Kegawatan Pre Anesthesi


Penatalaksanaan Keperawatan
Dalam Kegawatan Pre Anesthesi

Beberapa peneliti di Amerika  bahwa resiko kecelakaan atau kematian akibat Anesthesi makin lama makin kecil, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, dari 1 – 2 / 3000 menjadi 1 / 20.000 pasien yang meninggal.
Kemajuan ini karena beberapa factor
1.      Keadaan umum pasien
2.      Jenis pembedahan
3.      Lama pembedahan
4.      Kemajuan Ilmu Anesthesi dan Bedah

Faktor Resiko yang Menyebabkan Kegawatan Anesthesi
A.     Umur
1.      Anak
2.      Lansia

B.     Penyakit yang menyertai pasien
1.      Penyakit jantung (Cardio Vaskuler)
2.      Penyakit Paru-paru
3.      Gagal Ginjal
4.      Gagal Hepar
5.      Diabetes Militus (DM)
6.      Kegemukan (Obesitas)
C.     Riwayat merokok, Alkohol dan penyalahgunaan obat lainnya.

D.     Riwayat Keluarga tentang komplikasi Anesthesi
1.      Panas yang tinggi (Hiperthermia)
2.      Efek samping Obat Anesthesi

A.     Umur
Anak itu bukan manusia kecil
1.      Bayi baru lahir adalah segera setelah lahir sampai 24 jam.
2.      Neunatus ® 24 jam sampai 30 hari
3.      Bayi  ® 30 hari sampai 12 bulan
4.      anak ® 1 tahun sampai pubertas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kegawatan pada anak adalah :
a.       Bayi akan lebih sulit mempertahankan temperatur dari pada orang dewasa.
b.      Bayi tidak bisa secara cepat mengkonpensasi balance cairan.


Faktor yang mempengaruhi kegawatan pada orang tua:
a.       Organ (jantung, paru, dll) mengalami penurunan akibat proses menua.
b.      Pada orang tua sebagian besar mempunyai penyakit penyerta

Penyakit yang menyertai pasien
Di Amerika ada 40% pasien yang dioperasi dengan resiko jantung coroner sehingga anestesi juga harus disesuaikan dengan resiko pasien. Yang harus di perhatikan tentang pengkajian preop .   
a.     : Riwayat penyakit
b.     : Hasil Laboratorium
c.     : Hasil ECG,
d.     : Hasil konsultasi dokter Ahli lain.

o   Semakin diketahui tentang pengkajian status phisik pasien akan semakin mudah didalam pelaksanaan anesthesi
o   Komplikasi paru merupakan penyebab ke 2 kematian setelah komplikasi cardio vaskuler.
o   Pada pasien dengan PPOK. Resiko gagal nafas di anesthesi pasien bisa terjadi Hipoventilasi, Hypoxsemia, penumpukan secret.
3.      Gagal Ginjal
Data statistik di Amerika Serikat 5% pasien dengan gagal Ginjal dapat dilakukan dioperasi
a.       Semua obat-obat anesthesi inhalasi obat induksi menyebabkan depresi myocard, Hypotensi dan peningkatan renal vaskuler resisten.
b.      Semua obat-obat anestesi menyebabkan disfungsi ginjal sementara  pasien dengan ginjal yang normal.
Pada penatalaksanaan anesthesi yang cepat atau waktu kurang dari 15 menit, perubahan (disfungsi ginjal) hanya beberapa lama akan dapat terjadi disfungsi renal sampai beberapa hari.
Secara teori bahwa obat inhalasi sevoflurane dan Halothan mengakibatkan terjadi toksisitas di ginjal. Hindari obat-obat yang dimetabolisme di ginjal.

4.      Gagal Hepar
o   Bila ada kelainan di Hepar harus di koreksi sebelum di operasi seperti :
-          Koagulapati
-          Asites yang tidak terkontrol
-          Ketidak seimbangan cairan elektrolit
-          Enchepelopati

5.      Diabetes Militus
-          Pasien dengan penyakit DM. Beresiko terjadi ketoasidosis dan Hiperosmolaritas coma sehingga harus diterapi lebih dahulu.
-          DM dengan neuropathi perifer harus diperhatikan agar tidak terjadi cidera.

6.      Obesitas
Pasien dengan Obesitas yang harus diperhatikan masalah resiko cidera dan penanganan pada pasien saat operasi maupun pasca operasi.


Kegawatan intra operatif
A.     Resiko Cidera yang Berhubungan dengan tindakan Anestesi (intra Anestesi)
1.      Kerusakan saraf tepi
2.      Cidera mulut / jalan nafas
3.      Aspirasi paru
4.      Cidera mata
5.      Cidera Ibu / janin
B.     Kewaspadaan selama Anesthesi
1.      Savety
2.      Penyebab potensial
3.      Monitor (BSM)

C.     Reaksi Alergi (Anaphilaktik)
1.      Alergi karet (latek)
2.      Alergi obat-obat

Kegawat Daruratan Pasien Anestesi/Operatif
a.       Sedation
b.      Depresi nafas
c.       Depresi jantung
d.      Hypothermia
e.       Mual dan muntah

Jumat, 16 Desember 2011


KRISTALOID


Syok atau renjatan merupakan suatu keadaan patofisiologik dinamik yang mengakibatkan hipoksia jaringan dan sel. Karena hipoksia pada syok terjadi gangguan metabolisme sel, sehingga dapat timbul kerusakan ireversibel pada jaringan organ vital. Bila terjadi kondisi seperti ini penderita meninggal dunia.

Syok bukan merupakan penyakit dan tidak selalu disertai kegagalan perfusi jaringan. Syok dapat terjadi karena kehilangan cairan dalam waktu singkat dari ruang intravaskuler, kegagalan kuncup jantung, infeksi sistemik berat, reaksi imun yang berlebihan dan reaksi vasovagol. Dan syok dapat terjadi setiap waktu pada penderita. Penanggulangan didasarkan pada diagnosis dini yang tepat.

A. Definisi dan Penyebab Syok
Syok adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat gangguan mekanisme homeostasis. Berdasarkan penelitian Moyer dan Mc Clelland tentang fisiologi keadaan syok dan homeostasis, syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Syok merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif.

Syok secara klinis didiagnosa dengan adanya gejala-gejala seperti berikut :
1. Hipotensi : tekanan sistole kurang dari 80 mmHg atau TAR (Tekanan Arteri Rata-rata) kurang dari 60 mmHg, atau menurun 30 % lebih.
2. Oliguria : produksi urin kurang dari 20 ml/jam.
3. Perfusi perifer yang buruk, misalnya kulit dingin dan berkerut serta pengisian kapiler yang jelek.

Syok dapat diklasifikasi sebagai syok hipovolemik, kardiogenik dan syok anafilaksis. Di sini akan dibicarakan mengenai syok hipovolemik yang dapat disebabkan oleh hilangnya cairan intravaskuler, misalnya terjadi pada :
1. Kehilangan darah atau syok hemoragik karena perdarahan yang mengalir keluar tubuh seperti hematotoraks, ruptura limpa dan kehamilan ektopik terganggu.
2. Trauma yang berakibat fraktur tulang besar, dapat menampung kehilangan darah yang besar. Misalnya, fraktur humerus menghasilkan 500-1000 ml perdarahan atau fraktur femur menampung 1000-1500 ml perdarahan.
3. Kehilangan cairan intravaskuler lain yang dapat terjadi karena kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler, misalnya pada :
a. Gastrointestinal : peritonitis, pankreatitis dan gastroenteritis.
b. Renal : terapi diuretik, krisis penyakit Addison.
c. Luka bakar (kombustio) dan anafilaksis.

Pada syok, konsumsi oksigen dalam jaringan menurun akibat berkurangnya aliran darah yang mengandung oksigen atau berkurangnya pelepasan oksigen ke dalam jaringan. Kekurangan oksigen di jaringan menyebabkan sel terpaksa melangsungkan metabolisme anaerob dan menghasilkan asam laktat. Keasaman jaringan bertambah dengan adanya asam laktat, asam piruvat, asam lemak dan keton (Stene-Giesecke, 1991). Yang penting dalam klinik adalah pemahaman kita bahwa fokus perhatian syok hipovolemik yang disertai asidosis adalah saturasi oksigen yang perlu diperbaiki serta perfusi jaringan yang harus segera dipulihkan dengan penggantian cairan. Asidosis merupakan urusan selanjutnya, bukan prioritas utama.


B. Gejala dan Tanda Klinis
Gejala syok hipovolemik cukup bervariasi, tergantung pada usia, kondisi premorbid, besarnya volume cairan yang hilang dan lamanya berlangsung. Kecepatan kehilangan cairan tubuh merupakan faktor kritis respons kompensasi. Pasien muda dapat dengan mudah mengkompensasi kehilangan cairan dengan jumlah sedang dengan vasokonstriksi dan takhikardia. Kehilangan volume yang cukup besar dalam waktu lambat, meskipun terjadi pada pasien usia lanjut, masih dapat ditolerir juga dibandingkan kehilangan dalam waktu yang cepat atau singkat.

Apabila syok telah terjadi, tanda-tandanya akan jelas. Pada keadaan hipovolemia, penurunan darah lebih dari 15 mmHg dan tidak segera kembali dalam beberapa menit. Adalah penting untuk mengenali tanda-tanda syok, yaitu :
1. Kulit dingin, pucat dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan.
2. Takhikardia : peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respons homeostasis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan.
3. Hipotensi : karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan curah jantung, vasokonstriksi perifer adalah faktor yang esensial dalam mempertahankan tekanan darah. Autoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak di bawah 70 mHg.
4. Oliguria : produk urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik. Oliguria pada orang dewasa terjadi jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam.

Pada penderita yang mengalami hipovolemia selama beberapa saat, dia akan menunjukkan adanya tanda-tanda dehidrasi seperti : (1) Turunnya turgor jaringan; (2) Mengentalnya sekresi oral dan trakhea, bibir dan lidah menjadi kering; serta (3) Bola mata cekung.
Akumulasi asam laktat pada penderita dengan tingkat cukup berat, disebabkan oleh metabolisme anaerob. Asidosis laktat tampak sebagai asidosis metabolik dengan celah ion yang tinggi. Selain berhubungan dengan syok, asidosis laktat juga berhubungan dengan kegagalan jantung (decompensatio cordis), hipoksia, hipotensi, uremia, ketoasidosis diabetika (hiperglikemi, asidosis metabolik, ketonuria) dan pada hidrasi berat.

Tempat metabolisme laktat terutama adalah di hati dan sebagian di ginjal. Pada insufisiensi hepar, glukoneogenesis hepatik terhambat dan hepar gagal melakukan metabolisme laktat. Pemberian HCO3 (bikarbonat) pada asidosis ditangguhkan sebelum pH darah turun menjadi 7,2. Apabila pH 7,0-7,15 dapat digunakan 50 ml NaHCO3 8,4 % selama satu jam. Sementara, untuk pH < 7,0 digunakan 2/2 x berat badan x kelebihan basa.


A. Resusitasi Cairan
Manajemen cairan adalah penting dan kekeliruan manajemen dapat berakibat fatal. Untuk mempertahankan keseimbangan cairan maka input cairan harus sama untuk mengganti cairan yang hilang. Cairan itu termasuk air dan elektrolit. Tujuan terapi cairan bukan untuk kesempurnaan keseimbangan cairan, tetapi penyelamatan jiwa dengan menurunkan angka mortalitas.
Perdarahan yang banyak (syok hemoragik) akan menyebabkan gangguan pada fungsi kardiovaskuler. Syok hipovolemik karena perdarahan merupakan akibat lanjut.
Tabel 1. Jenis-jenis Cairan Kristaloid untuk Resusitasi

Cairan
Na+
(mEq/L)
K+
(mEq/L)
Cl-
(mEq/L)
Ca++
(mEq/L)
HCO3
(mEq/L)
Tekanan Osmotik
(mOsm/L)
Ringer Laktat
130
4
190
3
28*
273
Ringer Asetat
130
4
109
3
28:
273
NaCl 0,9 %
154
-
154
-
-
308
*Sebagai laktat
: Sebagai asetat










Pada keadaan demikian, memperbaiki keadaan umum dengan mengatasi syok yang terjadi dapat dilakukan dengan pemberian cairan elektrolit, plasma atau darah.
Untuk perbaikan sirkulasi, langkah utamanya adalah mengupayakan aliran vena yang memadai. Mulailah dengan memberikan infus Saline atau Ringer Laktat isotonis. Sebelumnya, ambil darah ± 20 ml untuk pemeriksaan laboratorium rutin, golongan darah dan bila perlu Cross test. Perdarahan berat adalah kasus gawat darurat yang membahayakan jiwa. Jika hemoglobin rendah maka cairan pengganti yang terbaik adalah transfusi darah.
Resusitasi cairan yang cepat merupakan landasan untuk terapi syok hipovolemik. Sumber kehilangan darah atau cairan harus segera diketahui agar dapat segera dilakukan tindakan. Cairan infus harus diberikan dengan kecepatan yang cukup untuk segera mengatasi defisit atau kehilangan cairan akibat syok. Penyebab yang umum dari hipovolemia adalah perdarahan, kehilangan plasma atau cairan tubuh lainnya seperti luka bakar, peritonitis, gastroenteritis yang lama atau emesis dan pankreatitis akuta.


C. Pemilihan Cairan Intravena
Pemilihan cairan intravena sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit dan kelainan metabolik yang ada. Berbagai larutan parerenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan fisiologis berbagai kondisi medis. Tetapi cairan intravena atau infus merupakan salah satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan perawatan pasien.

Tetapi awal pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan memakai 2 liter larutan isotonis Ringer Laktat. Namun, Ringer Laktat tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. Resusitasi cairan yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien kombustio 18-24 jam sesudah cedera luka bakar.

Larutan parerental pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid dan darah. Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi dan sedikit efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah.


Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis metabolik, kombustio dan sindroma syok. NaCl 0,45 % dalam larutan Dextrose 5 % digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensibel.
Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat metabolisme laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat dimetabolisme pada hampir seluruh jaringan tubuh dengan otot sebagai tempat terpenting. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.
Secara sederhana, tujuan dari terapi cairan dibagi atas resusitasi untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk mengganti kebutuhan harian.


DAFTAR PUSTAKA

1. Darmawan, Iyan, MD, Cairan Alternatif untuk Resusitasi Cairan : Ringer Asetat, Medical Departement PT. Otsuka Indonesia, Simposium Alternatif Baru Dalam Terapi Resusitasi Cairan.
2. FH Feng, KM Fock, Peng, Penuntun Pengobatan Darurat, Yayasan Essentia Medica – Andi Yogyakarta, Edisi Yogya 1996, hal 5-16.
3. Hardjono, IS, Biomedik Asam Laktat, Bagian Biokimia FK Undip Semarang, Majalah Medika No. 6 Tahun XXV Juni 1999 hal 379-384.
4. Pudjiadi, Tatalaksana Syok Dengue pada Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Simposium Alternatif Baru Dalam Terapi Resusitasi Cairan, Agustus 1999.
5. Sunatrio, S, Larutan Ringer Asetat dalam Praktek Klinis, Simposium Alternatif Baru Dalam Terapi Resusitasi Cairan, Bagian Anestesiologi FKUI/RSCM, Jakarta, 14 Agustus 1999.
6. Thaib, Roesli, Syok Hipovolemik dan Terapi Cairan, Kumpulan Naskah Temu Nasional Dokter PTT, FKUI, Simposium h 17-32.
7. Wirjoatmodjo, M, Rehidrasi – Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi Kedua, ED Soeparman, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987 hal 8-12
http://medlinux.blogspot.com/2009/02/kristaloid.html