Selasa, 14 Mei 2013

Persiapan dan perawatan perioperatif seksio sesarea


PERSIAPAN DAN PERAWATAN PASIEN PERIOPERATIF
PADA PASIEN SEKSIO SESAREA


Definisi :
            Persalinan sesarea adalah kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus. Kebanyakan alasan untuk melakukan persalinan cesarean adalah distress janin, posisi sungsang, distosia dan persalinan cesarean sebelumnya..

Jenis SC
  1. Seksio sesarea klasik : pembedahan secara sanger
  2. Seksio sesarea transperitoneal profunda (supra servicalis = lower segmen caesarean section)
  3. Seksio sesarea yang diikuti dengan histerektomi (caesarean hysterectomy = seksio histerektomy)
  4. Seksio sesarea vaginal

Indikasi SC
  1. Indikasi ibu
·         Panggul sempit absolut
·         Tumor – tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
·         Stenosis servik
·         Plasenta previa
·         Disproporsi sefalopelvik
·         Ruptur uteri mebakat

  1. Indikasi janin
·        Kelainan letak (letak lintang, bokong, presentasi dahi dan muka)
·        Gawat janin


Presentasi Bokong ( sungsang)

            Terjadi jika bokong dengan / atau kaki merupakan bagian terndah janin. Pada pemeriksaan abdomen , kepala teraba di bagian atas, bokong pada daerah pelvis. Auskultasi menunjukan bahwa DJJ lokasinya lebih tinggi daripada yang diharapkan dengan presentasi verteks. Ada 3 macam presentasi bokong :
  1. Complete breech (presentasi bokong sempurna) : terjadi jika kedua kaki mengalami fleksi pada panggul dan lutut
  2. Frank breech (presentasi bokong murni) : terjadi jika kedua kaki mengalami fleksi pada panggul dan ekstensi pada lutut
  3. Footling breech (presentasi bokong kaki) : terjadi jika sebuah kaki mengalami ekstensi pada panggul dan lutut

Komplikasi presentasi bokong

1.      Pada janin :
·      Prolaps tali pusat
·      Trauma pada bayi akibat :tangan mengalami ekstensi, kepala mengalami ekstensi, pembukaan serviks belum lengkap dan disproporsi sefalopelvik
·      Asfiksia karena prolaps tali pusat, kompresi tali pusat, pelepasan plasenta  dan kepala macet
·      Perlukaan/trauma pada organ abdomen atau pada leher
·      Patah tulang leher

  1. Pada ibu :
·      Pelepasan plasenta
·      Perlukaan vagina atau servik
·      Endometritis

Pada umumnya seksio sesarea tidak dilakukan pada
·        Janin mati
·        Syok, anemia berat, sebelum diatasi
·        Kelainan congenital berat

Komplikasi pasca operasi
  1. Syok
  2. Hemoragi
  3. Retensio urinary
  4. Infeksi jalan kencing
  5. Distensi perut
  6. Terbukanya luka operasi eviserasi


Prinsip perawatan praoperatif


  1. Persipan kamar bedah

Pastikan bahwa :
·        Kamar bedah bersih (harus dibersihkan setiap kali selesai suatu tindakan)
·        Kebutuhan bedah dan peralatan tersedia, termasuk oksigen dan obat - obatan
·        Peralatan gawat darurat tersedia dan dalam keadaan siap pakai
·        Baju bedah, kain steril, sarung tangan, instrumen tersedia dalam keadaan steril dan belum kadaluarsa



  1. Persiapan pasien

a.              Persiapan fisik
·         Menilai keadaan umum meliputi tanda-tanda vital, berat badan, denyut jantung bayi, tinggi badan.
·         Memasang dower cateter untuk menilai balance cairan.
·         Memasang IV line.
·         Puasa 6-8 jam.
·         Cukur daerah operasi.
·         Menanggalkan semua perhiasan, gigi palsu dan membersihkan semua kosmetik.
·          Personal hygiene jika memungkinkan.
·         Mengganti pakaian dengan pakaian khusus operasi.
·         Menanyakan riwayat penyakit, riwayat alergi dan riwayat konsumsi obat-obatan.

b.      Persiapan Mental.
·         Memberikan penjelasan tentang indikasi operasi yang dilakukan demi keselamatan ibu dan janin.
·         Memberikan penjelasan tentang tindakan dan pembiusan yang akan dilakukan.
·         Mengorientasikan klien sebelum operasi kerungan bedah atau kamar operasi.
·          Memberi kesempatan kepada suami atau orang tua untuk mendampingi pasien di ruang tunggu sebelum operasi dimulai.
·         Mengajak klien dan keluarga untuk berdo’a demi kelancaran operasi yang kan dilakukan.

c.        Persiapan penunjang.
·         Pemeriksaan laboratorium
Meliputi : HB, AL, AT, CT/BT, HMT, Hbsag, SGOT, SGPT, Ureum Creatinin, Pemeriksaan urine.
·         Pemeriksaan ECG
·         Pemeriksaan USG

d.       Informed consent.







  1. Persiapan Anestesi.

Operasi SC bisa dilakukan dengan teknik General anestesi maupun Regional anestesi.

a.      Persiapan General anestesi
·         Obat meliputi obat-obat premedikasi, induksi, musculrelaksan, inhalasi, antidotum dan obat-obat emergency dan obat-obat lain seperti metergin oxitosin.
·         Cairan kristaloid, koloid dan kalau perlu darah.
·         Alat meliputi : STATIC

b.      Persiapan Regional anestesi
·         Obat regional anestesi
·         Alat meliputi : jarum spinal berbagai ukuran sesuai kebutuhan, hanskun, spuit, duk lobang, kom, cairan antiseptic
·         Cairan kristaloid, koloid dan kalau perlu darah.


Prinsip perawatan intraoperatif

  1. Atur pasien pada posisi yang tepat untuk suatu prosedur tindakan
  2. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
  3. Monitor tanda vital dan jaga hidrasi selama pembedahan
  4. Atasi rasa nyeri dengan dukungan emosional dan penggunaan anestesi.
  5. Berikan antibiotik profilaksis perioperatif


Prinsip perawatan pasca operasi

                  Perawatan di Pacu
           
·         Letakan pasien dalam posisi pemulihan
·         Pasang pengaman tempat tidur.
·         Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 5 menit.
·          Periksa tingkat kesadaran tiap 5 menit sampai sadar
·         Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
·         Transfusu jika diperlukan
·         Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi, segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah.
·         Mengukur skala aldrete skore dan bromege skore.


Diagnosa keperawatan
1.      Cemas b/d  Kurang pengetahuan masalah pembiusan dan operasi .
2.      Gangguan rasa nyaman mual muntah b/d Efek sekunder obat anestesi.
3.      Ketidak seimbangan cairan b/d Perdarahan intra operatif.
4.      Hipotermi b/d Efek sekunder obat anestesi.
5.      Nyeri b/d luka insisi operasi.
6.      Pola nafas tidak efektif b/d defresi pernafasan efek dari obat anestesi.
Resiko cedera b/d penurunan kesadaran, dilirium.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar